fbpx

FESTIVAL KERAPAN SAPI BRUJUL SEBAGAI BUDAYA MASYARAKAT LOKAL

Rabu (30/8/2017).

Kota Probolinggo mempunyai tradisi dan budaya unik. Tradisi lokal ini menjadi destinasi wisata budaya andalan kota Probolinggo. Perhelatan asyik inipun selalu dibanjiri penonton. Kerapan Sapi Brojol ,sebuah budaya Balapan Sapi Pembajak Sawah para petani ketika memasuki masa tanam.

Kerapan ini berbeda dengan kerapan kerapan sapi merah di pulau Madura karena menggunakan sapi pembajak sawah. Selain itu, aksi balap sapi ini juga menggunakan tanah berlumpur sebagai arena balapan. Sementara peraturan dan aksesoris lainnya, mirip dengan kerapan sapi Madura.

Unik dan seru karena arena yang dipergunakan area persawahan yang berlumpur dan berair,sebagai arena balapan,” Ungkap salah satu anggota Bakorwil asal Jember.

Keunikan itu juga menjadi buruan sejumlah fotografer dari berbagai daerah. Mereka datang untuk memburu foto-foto unik,menarik dan eksotis dengan latar sawah berlumpur dan objek sapi pembajak sawah.

Meski sapi-sapi ini hanya pembajak sawah, namun sebelum dikarap, sapi itu mendapat perlakuan merdeka, mulai dari pemberian pakan ekstra hingga pemberian jamu khusus agar memiliki tenaga optimal.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Probolinggo, Agus Efendi menuturkan mulanya Kerapan Sapi Brujul hanya dilakukan petani secara sederhana yakni saat sedang membajak sawah pada waktu memasuki masa tanam.

Namun saat ini, Kerapan sapi brujul justru banyak dikenal masyarakat, karena telah mengikuti berbagai festival pada event budaya.

Kami rutin menggelar Festival Kerapan Sapi Brujul, seperti dalam perhelatan event SEMIPRO (Seminggu di Kota Probolinggo) tahun ini. Tujuannya untuk melestarikan tradisi dan budaya Petani ini, serta menjadi salah satu destinasi tujuan wisata yang dapat mendatangkan wisatawan dari berbagai daerah dan luar negri,” Ungkap Agus. (USHD/NSM/MI)